Sunday, October 19, 2014

Pengemis doa
Dengan jasad yang penuh kotoran dan noda
Sedang pakayan compang camping
Kulewati malam dengan tata kerama
Sumbang terasing dari tertib dunia
Tidur dan mimpi terbiar diranjang sepi
Cahaya lentera seakan diusir remang kegelapan
Kesombongan siang sirna diulit malam
Hiruk pikuk terkurung dikelambu sutera
Entah apakah aku bersendirian dilorong ini
Lantaran hanya sepi yang mengaminkan doa ku
.................................
Ragam Saudagar Raya
Dilangit terpahat menteri dan ikrar
Putaran galaksi bagai saksi
Namun graviti terus memanah molikul awan
Jestru nilai kejujuran lebur bagai hablur
Dipersimpangan sekuntum harapan
Apakah?
Akan teruskah?
Dan sampai bilakah?
Mega gemawan menetap gemerlapan
Pada cahaya sebuah kepercayaan
Buat unggas merpati dan kenari
Dipantas sebuah hamparan permaidani
Yang pasti akan melayang
Dibawah kuasa kesaktian Maha Agung
Lalu awan gemawan terus gemas dan rimas
Asap menebal menghalang sinar
Sukma dilontar soalan sumbang
Dimana sebuah kejujuran diulah akal akalan
Akankah terus merajalela saudagar
Sedang harapan hanya bebola angan
Unggas merpati dan kenari
Cuma mampu berkicau doa
Namun keyakinan menjulang dipuncak Himalaya
Hayat dan saat ini
Ringgit dan sen
Gagal mengawan ditanah air sendiri
Bahkan not ringgit puluh ratus dan ribu
Nilainya cuma bayangan kosong yang besar
Mengapa mudah seloka bersandiwara
Inikah adat Pendekar raya
Atau resam saudagar yang kaya raya
Atau barangkali ini kehidupan dunia maya
Ikrar dipahat pada gunung cahaya
Saat mentari beradu dikamar malam
Lalu unggas merpati dan kenari
Terperangkap oleh kilaunya suara
Nukilan Pena Cahaya Minda

  Renungan 2020. Tidak jauh terlemper pandangan Lantaran tersekat didrmaga detik Namun fikiran dan zikir Merawang dikaki Langit Samawi Maha ...