Kenapa bulan menangis
Semalam bulan menangis
Hati nya terhiris
dan darah tanpa warna menitis
kupu kupu malam hanya tersenyum
Serigala meraung
kelip kelip kian kabur cahaya
Bintang tidur memanjang
semut merah berpesta
Jasad terbujur dijarah
Shadu bulan terhenti seketika
Jasad terbujur bernafas
mendeklamasikan puisi sukma
Pepohon sujud menyembah bumi
Makhluk kerdil terhimpit
Deru bayu jadi muzik
Walau suaranya sumbang
Kupu kupu,serigala,kelip kelip,bintang dan semut merah
lesap entah kemana
Bulan! hanya kita mengerti
Kenapa Engkau menangis
Nukilan cahaya minda
Monday, December 23, 2013
Wajah dunia.
Engkau terlalu indah
Hati tidak mampu membuat mu bagi potret
kerana memory ini terlalu kecil
Walau jari jemari ini berhempas pulas
menghimpun reranting serata dunia
Danau,sungai dan lautan
Untuk kujadikan pena dan tinta
Ah ternyata aku terlalu kerdil untuk mu
Diatap mu tersisip sang mentari
Cahayanya menembusi lapisan hayat
Dijendela mu,sang purnama mendekap bintang
Wajahnya muram bersalut gerhana
Di bahu mu,gunung terpacak mencakar awan
Kekar gagahnya,menghalang gempita gempa
Di perut mu,daratan dan lautan berpaut kasih
Tempat sang bayu,mengurak selendang
Bertapa tangan ini gagal mendeklamasikan wajah mu
Sebelumnya dan hari ini
Wajah mu terukir senyum berirama rindu
Mungkinkah esok
Sang mentari berhenti bersinar
Bulan dan bintang hilang ditelan gerhana
Gunung,daratan dan lautan hilang gelita
Hembusan nafas sang bayu tak kedengaran
Itulah hari terakhirku merakam wajah dunia.
Nukilan cahaya minda
Engkau terlalu indah
Hati tidak mampu membuat mu bagi potret
kerana memory ini terlalu kecil
Walau jari jemari ini berhempas pulas
menghimpun reranting serata dunia
Danau,sungai dan lautan
Untuk kujadikan pena dan tinta
Ah ternyata aku terlalu kerdil untuk mu
Diatap mu tersisip sang mentari
Cahayanya menembusi lapisan hayat
Dijendela mu,sang purnama mendekap bintang
Wajahnya muram bersalut gerhana
Di bahu mu,gunung terpacak mencakar awan
Kekar gagahnya,menghalang gempita gempa
Di perut mu,daratan dan lautan berpaut kasih
Tempat sang bayu,mengurak selendang
Bertapa tangan ini gagal mendeklamasikan wajah mu
Sebelumnya dan hari ini
Wajah mu terukir senyum berirama rindu
Mungkinkah esok
Sang mentari berhenti bersinar
Bulan dan bintang hilang ditelan gerhana
Gunung,daratan dan lautan hilang gelita
Hembusan nafas sang bayu tak kedengaran
Itulah hari terakhirku merakam wajah dunia.
Nukilan cahaya minda
Wednesday, December 4, 2013
Murka Sang Dewata
Dalam aku merenung wajah alam
Alangkah kagum jiwa rohani
Ada gunung terjuntai
Laharnya memuntahkan belerang api
Ada bukit bukau menawan pandang
Lerengnya berlagu kicau
Paya dan belukar
Menari tanpa langkah
Lautan membiru bagai lukisan
Penghuninya lupa daratan
Bulan hening berwajah suram
Cahayanya lentera hampir padam
Sedang bintang galau diulit awan
Ku sapa angin puting beliung
Nafasnya menyahut kencang
Lalu bukit,paya dan belukar
Bagai padang jarak padang tekukur
Ku sapa hujan
Lalu awan menitiskan air dan batu
Menembusi atap rumah dan pondok
Paya dan belukar
tabah redha,mengusung takdir
Ku cari mentari
Apakah bersembunyi dibalik awan
Alam! apakah ini sandiwara?
Yang belum belum ada dilayar
Walau mimpi dalam igawan
Tetap ngeri tak bersempadan
Atau angkara murka sang dewata
Lantaran penghuni alam
Berpesta pora ...........
Nukilan Cahaya Minda
Dalam aku merenung wajah alam
Alangkah kagum jiwa rohani
Ada gunung terjuntai
Laharnya memuntahkan belerang api
Ada bukit bukau menawan pandang
Lerengnya berlagu kicau
Paya dan belukar
Menari tanpa langkah
Lautan membiru bagai lukisan
Penghuninya lupa daratan
Bulan hening berwajah suram
Cahayanya lentera hampir padam
Sedang bintang galau diulit awan
Ku sapa angin puting beliung
Nafasnya menyahut kencang
Lalu bukit,paya dan belukar
Bagai padang jarak padang tekukur
Ku sapa hujan
Lalu awan menitiskan air dan batu
Menembusi atap rumah dan pondok
Paya dan belukar
tabah redha,mengusung takdir
Ku cari mentari
Apakah bersembunyi dibalik awan
Alam! apakah ini sandiwara?
Yang belum belum ada dilayar
Walau mimpi dalam igawan
Tetap ngeri tak bersempadan
Atau angkara murka sang dewata
Lantaran penghuni alam
Berpesta pora ...........
Nukilan Cahaya Minda
Tuesday, December 3, 2013
Pentingnya
mengamalkan kejujuran
Kejujuran adalah satu sifat yang mana untuk
mengamalkanya,bukan hanya setakat agama,malah setiap orang yang mempunyi agama
atau tidak,semuanya menegaskan akan keperluan seseorang untuk berlaku
jujur.Tetapi apa bila kita kaji,walau punjelas sangat ditegaskan,namun
kejujuran tidak dilaksanakan seperti yang sepatutnya,setiap kali ada peluang,mereka
akan berdusta untuk mendapatkan kepantingan yang bersifat perabadi.Bermula dari
perseorangan sehinggalah keperingkat antara bangsa,walau pun sifat jujur ini
sangat diperlukan, namun keadaan yang membuat ia nya bertetangan
disebaliknya.Untuk mendapatkan menafaat perabadi dalam kehidupan harian,dusta
selalu dijadikan sebagai sandaran,dan kejujuran yang sebenar yang dikatakan
sebagai QOUL,SADID itu semakin dilupakan.Dalam urusan perniagan,yang
merupakansatu kumpulan terbesar didunia,dusta selalu dijadi sebagai
sandaran.Dalam bidang politik Negara,kejujuran juga kian dilupakan.Dalam
hubungan dan politik antarabangsa juga bersandarkan kepada dusta.Inilah yang
selalu kita lihat berlaku dengan meluasnya.Malah,agama yang membawa dan
menyebarkan kejujuran,ada kelompok yang memasukan dusta didalamnya dan berusaha
menyembunyikan kebenaran sehingga kebenaran itu langsung tidak kelihatan.(Huzur
ATBA 9 sept 2011)
Sunday, December 1, 2013
Biarkan tertinggal asal kita dihadapan.
Akan kita biarkan sang matahari membelah bumi
Bulan pula menconteng awan dengan warna yang kian pudar
Bintang mengulum senyum yang pahit
Lautan menghampar selimut geloranya
Pantai sabar diolah mahluk
Belukar kian pupus angkara rakus
Bukit bukau dihiris dan diruntuh tanpa simpati
Rimba dicincang menjadi bandar
Gunung megah mengheret banjaran kerokanya.
Akan dikemanakan kita yang kerdil ini
membuat tafsir tentang matahari
membaca contengan awan
Menghirup pahitnya liur sang bintang
Menahan amukan badai
Meniru sabarnya pantai
Ah!! biarlah belukar,bukit,rimba dan gunung
Mentafsir diri mereka sendiri
Asalkan kita terus berjalan
seperti air yang terus kehilir
Dibiarkan tertinggal asal kita dihadapan
Biar kita dihanyutkan tapi kita tidak tertinggal
Dan pasti kita yang pertama sampai dimuara
Matahari,bulan,bintang,lautan, pantai,belukar,bukit bukau,rimba dan gunung
Menyanyikan lagu doanya buat kita yang awal sampai,
Nukilan cahaya minda.
Akan kita biarkan sang matahari membelah bumi
Bulan pula menconteng awan dengan warna yang kian pudar
Bintang mengulum senyum yang pahit
Lautan menghampar selimut geloranya
Pantai sabar diolah mahluk
Belukar kian pupus angkara rakus
Bukit bukau dihiris dan diruntuh tanpa simpati
Rimba dicincang menjadi bandar
Gunung megah mengheret banjaran kerokanya.
Akan dikemanakan kita yang kerdil ini
membuat tafsir tentang matahari
membaca contengan awan
Menghirup pahitnya liur sang bintang
Menahan amukan badai
Meniru sabarnya pantai
Ah!! biarlah belukar,bukit,rimba dan gunung
Mentafsir diri mereka sendiri
Asalkan kita terus berjalan
seperti air yang terus kehilir
Dibiarkan tertinggal asal kita dihadapan
Biar kita dihanyutkan tapi kita tidak tertinggal
Dan pasti kita yang pertama sampai dimuara
Matahari,bulan,bintang,lautan,
Menyanyikan lagu doanya buat kita yang awal sampai,
Nukilan cahaya minda.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Renungan 2020. Tidak jauh terlemper pandangan Lantaran tersekat didrmaga detik Namun fikiran dan zikir Merawang dikaki Langit Samawi Maha ...
-
Andai esok masih ada Kegilaan ini wajib diusir Kebodohan jangan diberi ruang Lantaran hayat lebih berharga Dari terabai menyunsung bahaya An...
-
Berat beralas gelisah dan gundah Mimpi pun tidak menghadiahkan damai Kicau murai seakan menyapa Mengerti tentang langkah ini Diabaikan ma...
-
CVD sembilan belas Aku wajar menghindar dari mu Bukan aku tidak bertawakal Tapi ku kenal hakikat khauf Destinasi hakikat tawa...