Murka Sang Dewata
Dalam aku merenung wajah alam
Alangkah kagum jiwa rohani
Ada gunung terjuntai
Laharnya memuntahkan belerang api
Ada bukit bukau menawan pandang
Lerengnya berlagu kicau
Paya dan belukar
Menari tanpa langkah
Lautan membiru bagai lukisan
Penghuninya lupa daratan
Bulan hening berwajah suram
Cahayanya lentera hampir padam
Sedang bintang galau diulit awan
Ku sapa angin puting beliung
Nafasnya menyahut kencang
Lalu bukit,paya dan belukar
Bagai padang jarak padang tekukur
Ku sapa hujan
Lalu awan menitiskan air dan batu
Menembusi atap rumah dan pondok
Paya dan belukar
tabah redha,mengusung takdir
Ku cari mentari
Apakah bersembunyi dibalik awan
Alam! apakah ini sandiwara?
Yang belum belum ada dilayar
Walau mimpi dalam igawan
Tetap ngeri tak bersempadan
Atau angkara murka sang dewata
Lantaran penghuni alam
Berpesta pora ...........
Nukilan Cahaya Minda
Wednesday, December 4, 2013
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Renungan 2020. Tidak jauh terlemper pandangan Lantaran tersekat didrmaga detik Namun fikiran dan zikir Merawang dikaki Langit Samawi Maha ...
-
Andai esok masih ada Kegilaan ini wajib diusir Kebodohan jangan diberi ruang Lantaran hayat lebih berharga Dari terabai menyunsung bahaya An...
-
Berat beralas gelisah dan gundah Mimpi pun tidak menghadiahkan damai Kicau murai seakan menyapa Mengerti tentang langkah ini Diabaikan ma...
-
CVD sembilan belas Aku wajar menghindar dari mu Bukan aku tidak bertawakal Tapi ku kenal hakikat khauf Destinasi hakikat tawa...
No comments:
Post a Comment