Badai tsunami silih berganti
Bumi masih gundah gulana
Warna gemerlapan cahaya lentera
Belum mamapu menerangi negara
Entah bila ternoktah Kemelut
Awan kian pekat kelam
Layar sandiwara satria sisah
Masih berlegar dari Perlis keSabah
Bumi masih gundah gulana
Warna gemerlapan cahaya lentera
Belum mamapu menerangi negara
Entah bila ternoktah Kemelut
Awan kian pekat kelam
Layar sandiwara satria sisah
Masih berlegar dari Perlis keSabah
Mengapa berantai kemelut dirasa
Bila musim boleh berarak
Angin panas membakar belukar
Samudera menghanguskan gelombang
Anak anak bangsa hilang sopan
Suara suara lancang sumbang
Bergema bagai petir malam
Waktu siang gelagat cahaya mentari
Menyumbang panas menghakis keringat
Akhirnya bosan menunggu panjang
Lentara langkah kian sumbang
Bila musim boleh berarak
Angin panas membakar belukar
Samudera menghanguskan gelombang
Anak anak bangsa hilang sopan
Suara suara lancang sumbang
Bergema bagai petir malam
Waktu siang gelagat cahaya mentari
Menyumbang panas menghakis keringat
Akhirnya bosan menunggu panjang
Lentara langkah kian sumbang
Pejuang penjulang kemerdekaan
Dimana hilang kocak suara mu
Cuma penukil kerdil memahat batu
Huruf tidak teratur berkecamuk
Kalimat hanya kumat kamit bibir
Bagai suara tempua malam
Kenapa langit hanyut didanau
Kemarau dimuara sungai
Gerimis ditengah panas
Galau kesumat dendam risis
Hingga gelombang sukar ditafsir.
Dimana hilang kocak suara mu
Cuma penukil kerdil memahat batu
Huruf tidak teratur berkecamuk
Kalimat hanya kumat kamit bibir
Bagai suara tempua malam
Kenapa langit hanyut didanau
Kemarau dimuara sungai
Gerimis ditengah panas
Galau kesumat dendam risis
Hingga gelombang sukar ditafsir.
.......
Nukilan Pena Cahaya Minda,
21 November 2019

No comments:
Post a Comment