Harapan ku kesal tinggal harapan
Menjulang mimpi setinggi Kinabalu
Dikakinya terukir sebuah harapan
Yang kini tinggal kenangan
Telah kurenung masa berlalu
Aku pernah mampu mencatat
Waktu itu harapan bukan kepalang
Rupanya berderai bersama hampa
Yang ditampi dengan dulang berjurang
Kini aku duduk mendongak kelangit
Harapan ini moga mereka menyedari
Setiap ayah dan ibu didunia ini
Punya cita menyimpan kenangan
Agar anak anak generasi mendatang
Membaca nota yang tidak berkaki
Namun bermakna buat sekujur jasad
Wujud ini pernah hadir dialam fana
Dengan harapan setinggi gunung
Apakah berderai menjadi debu
Berteman ilmu yang ibarat debu jalanan
Ku anyam bersama bebatuan sungai
Ku bancuh dengan air sungai jernih
Ku adun dengan masinnya air samudera
Pasti tak mampu menarik sukma mereka
Lantaran gula gula dunia
Menjadi perasa diliur mereka
Akhirnya karya cita memerah minda
Hampa tersisih entah dimana?
Oh inilah alam dunia
Pasti sebuah hampa diterbangkan angin
Ku cari kekuatan dimana tergadai
Ku ruah dikaki bumi sampai keawan
Ku rentas samudera sungai dan belukar
Ku renang awan dari benua ke benua
Kelopak buah tiada yang berputik
Bersepah sepah jeritan sumbang
Apa kah ini mahkota hayat
Dilelong tergantung pasti berzaman
Namun aku setia sepanjang zaman
Menanti mimpi diujung ranjang
Biarlah zahir tersingkap takdir.
Nukilan Pena Cahaya Minda,
19 Oktober 2019
No comments:
Post a Comment